Nyontek, Pantang Buat Si Pemberani!

BERTINDAK curang seperti menyontek saat ujian adalah perilaku seorang pecundang. Hanya mereka yang bermental berani-lah yang cenderung tidak mau berbuat curang.

Hubungan antara tingkat keberanian dan perilaku nyontek belum lama ini diteliti para ahli di Amerika Serikat  belum lama ini. Menurut hasil riset yang dipublikasikan pada konferensi American Psychological Association, para mahasiswa yang keberaniannya paling tinggi cenderung tak mau berbuat curang pada saat ujian.

Dua riset yang melibatkan sekitar 400 mahasiswa di Ohio State University itu menemukan, mahasiswa yang tidak suka menyontek memperoleh skor tertinggi dalam tes dan uji keberanian dan empati.  Mereka juga mencatat rata-rata angka lebih tinggi dalam tes kejujuran dibandingkan teman mereka yang suka menyontek.

Dalam riset tersebut, peneliti menanyakan kepada para mahasiswa apakah mereka menyontek dalam 30 hari terakhir atau dalam kurun setahun ke belakang.  Mahasiwa juga ditanya apakah mereka akan berbuat curang di kemudian hari. Setelah itu, mahasiswa harus menyelesaikan kuisioner untuk menguji keberanian, kejujuran dan rasa empati mereka.

Mereka yang memperoleh nilai menengah ke atas dikategorikan sebagai “academic heroes”,  dan kelompok ini cenderung tidak melakukan kecurangan dalam 30 hari terakhir selain mereka pun tak berniat menyontek di kemudian hari. Menurut peneliti, mahasiswa yang masih kategori academic heroes memang minoritas.

Para mahasiswa juga dilaporkan merasa lebih bersalah lagi bila mereka menyontek dan tidak bisa merasionalisasi tindak kecurangan yang dilakukan temannya.  Selain itu, mereka sulit  untuk mempercayai bahwa rekan-rekannya sesama mahasiswa secara rutin melakukan ketidakjujuran dalam hal akademis.

Pimpinan riset Professor Sara Staats menjelaskan bahwa siswa yang jujur memiliki pandangan yang lebih positif  terhadap teman-temannya “Siswa yang tidak nyontek tampaknya pada posisi minoritas, dan punya banyak kesempatan untuk melihat teman-temannya curang dan menerima penghargaan dengan risiko yang lebih kecil untuk mendapat hukuman. Kami melihat upaya menghindari kecurangan seperti sebuah bentuk dari heroisme setiap hari dalam setting akademis,” ujarnya.

Peneliti menambahkan, studi lainnya menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen –  dan terkadang hingga  80 persen – para mahasiwa dilaporkan pernah menyontek

Dr Paul Seagar, juru bicara  British Psychological Society dan dosen pada University of Central Lancashire, menyatakan penemuan ini memang sesuai seperti yang diharapkan. “Orang-orang ini kemungkinan memiliki kepribadian yang kuat dan kecil kemungkinannya untuk menyerah pada godaan.,” tegasnya. (kdc)